ldii, islam jamaah, sesat ldii, jokam
Home Kisah Tujuh Alasan Saya Keluar dari Islam Jamaah LDII
Kisah - 8 Januari, 2019

Tujuh Alasan Saya Keluar dari Islam Jamaah LDII

Islam Jama’ah LDII: Mengkaji Al Quran, dengan makna tiap kalimah, lalu diterangkan tafsir/keteranganya. Diramut dengan teratur, mengaji setidaknya dua kali dalam sepekan sebagai standar minimal, bahkan jika beruntung dipondokkan sehingga bisa mengaji al Quran dan Al Hadits secara intensif. Sangat menyenangkan bagi seorang muslim yang bersemangat menghambakan diri kepada Allah سبحانه و تعالى. Demikian kami jalani selama belasan tahun, ikhwah lain sampai duapuluh bahkan tiga puluh tahun, sampai akhirnya terbit secercah cahaya terang benderang, di tengah cahaya remang-remang yang selama ini meliputi kami. Ternyata remang-remang tidaklah cukup untuk mengarungi samudra zaman.

Darimana cahaya itu muncul? Ternyata tidak jauh bahkan sangat dekat, satu karunia Allah bagi setiap muslim dari umat ini: Al Quran. Benarlah jika Rasulullah صلى الله عليه و سلم banyak memotivasi umat untuk senantiasa berdekatan dengan Al Quran.

إنَّ هذا القُرْآنَ سَبَبٌ طَرَفُهُ بيَدِ الله و طَرَفُهُ بِأيْدِيكم فتَــمَسَّكُوْا به فإنكم لن تَضِلُّوا ولن تَهْلَـكُوا بعْدَهُ ابدًا …

“Sesungguhnya Al Quran ini (seperti) tali, satu ujungnya di Tangan Allah ta’ala dan ujung yang lain di tangan-tangan kalian, maka berpegang teguhlah dengannya, karena kalian tidak akan tersesat dan tidak akan rusak sesudah (berpegang teguh pada) nya selamanya…”

Allah ta’ala telah memudahkan sebab-sebab hidayah bagi manusia, yakni telinga, mata, hati, akal dan fithrah yang lurus, yang jika seseorang bermujahadah (sungguh-sungguh) menggunakan semua itu untuk memahami Al Quran, niscaya ia akan sampai kepada cahaya terang benderang itu. Firman Allah عز وجل:

وَالَّــذِيْنَ جَاهَدُوْا فينا لنهدينهم سُبُلَنَا … (سورة العنكبوت الاية ٦٩).

Selama aktif dalam Islam Jama’ah LDII, ada bebera point yang membuat kami tertegun, sering bertanya-tanya dalam hati, mengapa begini dan begitu? Terkadang ada teguran halus dari lubuk hati kecil, dengan beberapa praktik yang dikerjakan oleh Islam Jama’ah. Jika diuraikan, detail hal ini akan sangat panjang, namun secara singkat akan kami uraikan point-point yang bagi saya – mungkin mirip dengan ikhwah lain, khususnya yang betul-betul menjalani kehidupan sebagai pengurus/ terdapuk dalam IJ – sebagai pintu gerbang tempat keluar dari kekeliruan, menuju jalan yang lebih luas, lebih lurus dan benar.

Pernahkah Anda (khususnya yang masih berpemahaman Islam Jama’ah) merasakan sesuatu, ketika posisi sedang berada di dekat masjid umum (masjid ” luar/njobo”, istilah IJ) saat terdengar adzan, lalu kaum muslimin shalat berjamaah di dalamnya, sedangkan Anda berlalu atau menghindar begitu saja dari shalat berjamaah? (Tanyakan rasa itu di dalam hati kecilmu).

Pernahkah Anda, jika ada seorang Ustadz atau Dai berceramah, dia bahas tentang keagungan Allah سبحانه و تعالى dan begitu besar hakNya yang sudah semestinya kita tunaikan, lalu Anda teringat ajaran Islam Jama’ah bahwa semua itu sia-sia belaka karena sebaik apapun ucapan dan perbuatan mereka, sesungguhnya mereka hanyalah orang-orang kafir yang kelak di akhirat akan masuk neraka dan kekal di dalamnya?

Pernahkah anda mencoba memikirkan ulang ajaran jokam, dan mencari dalil di dalam Al Quran maupun Al Hadits, bagaimana kaifiyat Allah تبارك و تعالى di dalam menghukumi amal perbuatan yang dilakukan hamba-hambanya? Bahkan jika Anda rajin membaca Al Quran, mengkhatamkannya dalam sebulan minimal sekali, maka Anda akan menemukan ayat ini:

إنَّ اللّٰهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وإن تَكُ حَسَنَةً يضاعفها و يؤت مِنْ لَدُنْهُ اَجْرًا عَظيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak menzhalimi seseorang meskipun seberat dzarrah, dan jika amal itu baik niscaya akan Dia lipatgandakan, dan akan Dia berikan dari sisiNya pahala yang besar”.. (Surah AnNisa ayat 40).

Bayangkan, seberat dzarrah..!!

Artinya, soal pahala dan siksa, sorga dan neraka, Allah akan tetapkan dengan adil, terperinci, dan berdasar pada landasan yang kuat, jelas, zhahir, dan mudah difahami sesuai kelaziman dari sifatNya yang maha menunjukkan.

Mulailah tahun-tahun pencarian saya tentang hakekat iman, dan dari sinilah kita mulai tujuh alasan saya meninggalkan ajaran Islam Jama’ah. Para mantan jokam yang lain memiliki kemiripan, dengan tambahan dan detail sesuai pengalaman masing-masing.

1. Islam Jama’ah LDII telah keliru menjadikan baiat kepada amirnya sebagai syarat sah iman

Dengan kata lain, mereka menjadikan baiat ini sebagai syarat Islam atau memasukkannya ke rukun iman, padahal para ulama sepanjang zaman tidak ada yang memasukkannya sebagai salah satu syarat Islam, rukun iman ataupun rukun Islam.

2. Islam Jama’ah LDII telah mengklaim secara sepihak bahwa amir yang mereka baiat adalah imam kaum muslimin.

Padahal para ulama telah mempersyaratkan keabsahan seseorang disebut “imam”, atau ” amir”, atau “waliyyul amr”, diantaranya bahwa orang tersebut diketahui (tidak sembunyi-sembunyi) oleh seluruh muslimin di wilayahnya, mereka membaiatnya secara hakiki yakni menyerahkan kekuasaan atas wilayah sehingga amir merupakan ” sulthan” (penguasa) untuk wilayah (negara) tersebut.

3. ‘Amir’ dan pembuat kebijakan dalam Islam Jamaah LDII telah melestarikan cara belajar “mangkul”, yang hakekatnya merupakan belenggu atas setiap anggotanya agar tidak bisa belajar kepada ulama di luar golongannya.

Ini adalah sebuah kekeliruan, yang bila disengaja -Allahu a’lam apa yang mereka niatkan- merupakan kezhaliman. Kita semua melihat potensi yang besar, para pemuda belia yang jangkauan harapan hidupnya masih panjang, karena doktrin ini mereka hanya mendapatkan sedikit (bahkan setelah kami belajar di luar, kepada para asatidzah Ahlussunnah, sesungguhnya ilmu yang diajarkan dalam Islam Jama’ah sangat sedikit, sehingga orang yang alim asli dari mereka tidak dapat menjelaskan bab pokok-pokok iman (ushulul iman), apa kriteria seorang disebut muslim dan bagaimama kriteria tidak disebut muslim (kafir). Padahal dari dasar fondasi inilah akan dibangun kebaikan dalam bab-bab cabangnya: tentang pernikahan, waris, zakat dan sedekah, ukhuwah dalam keluarga dan ukhuwah Islamiyyah pada umumnya dengan seluruh muslim di dunia, dalam persaudaraan tulus, bukan ” bithonah -budi luhur” versi Islam Jama’ah seperti point berikutnya.

4. Islam Jama’ah menghalalkan berbohong mirip “taqiyyah” nya syi’ah.

Ini dilakukan, padahal mereka mengetahui bahwa berdusta memudahkan pelakunya menuju neraka, sebagaimana hadits yang mereka ajarkan dalam kitabul adab:

…وَايــَّاكم وَالكَذِبَ فإنَّ الكذبَ يَهْدِيْ الى الفُجورِ وإن الفُجُوْرَ يـَهْدِيْ اِلىَ النار …

“Jauhilah dusta, maka sesungguhnya dusta itu menuntun kepada kedurhakaan, dan kedurhakaan akan menuntun kepada neraka …”

Dasar “pelestarian” ajaran Islam Jamaah adalah bithonah ( istilah untuk memperhalus dusta). Anda tidak ingin muslim luar mengetahui bahwa anda mengkafirkan mereka, sehingga Anda harus berdusta supaya inti ajaran IJ tidak terbongkar. Padahal, manhaj (metode) asli agama Islam dibangun di atas kejujuran dan keterbukaan. Ilmu dan fiqih harus disebarkan secara terbuka ke seluruh umat bahkan seluruh manusia, biarlah ia teruji dengan berbagai kritik dan masukan. Sepanjang sejarah umat ini, Ahlussunnah sebagai inti dari umat Islam, terbukti sebagai thaifah zhahirah (sebutan lain dari lafadz manshurin/thaifah manshurah dalam hadits), karena mereka selalu menampakkan dan memenangkan ajaran Islam yang orisinil di atas seluruh agama dan pemahaman yang menyimpang.

Mari kita fikirkan ulang konsep “bithonah” ala Islam Jama’ah LDII, sesungguhnya ini adalah cerminan pondasi Ilmiyah yang lemah. Seandainya sebuah ajaran benar, niscaya ia kokoh menjulang menahan terpaan badai. Para pengikutnya pun tidak akan takut-takut mendakwahkannya, berani karena benar demikian kata pepatah kita.

5. Islam Jama’ah LDII tidak mengajarkan Tauhid dan Assunnah sebagaimana mestinya.

Inti dakwah para Rasul adalah agar manusia mentauhidkan Allah. Ajakan mereka kepada Allah, ilallah, bukan kepada kepentingan sekelompok orang semata. Dari sana, jika di suatu tempat ada da’i mendakwahkan tauhid, kemudian di belahan bumi lain ada da’i lain juga mengajarkan Tauhid, maka jika suatu saat mereka bertemu niscaya bagaikan saudara yang lama telah saling mengenal. Kalimat tauhid inilah penyebab tauhiidul kalimah, persatuan hati dan pendapat, ini pula yang menjadi dasar “al Jama’ah” ( point ke-6). Selama menjadi anggota Islam Jama’ah LDII, siapapun akan merasakan dasar persatuan mereka, bagaimana mereka membuat pemisahan antara “orang kita” dengan “orang luar”. Inilah yang disebut oleh agama kita sebagai ashobiyyah, atau hizbiyyah, sebuah persatuan yang tidak dikembalikan kepada inti ajaran Islam yakni Tauhid dan Assunnah.

Baca Juga: Pentingnya Memiliki Tauhid yang Benar

6. Islam Jama’ah LDII tidak memahami, lalu tidak mengamalkan luzuumul Jama’ah, justru mereka telah syadz (menyempal) dari Al Jama’ah.

Mereka salah menafsirkan surah Ali Imran ayat 103, juga hadits yang berbunyi:

يَدُ اللّٰهِ عَلَى الْجمـَاعَةِ وَ مــَنْ شَذَّ شذ اِلَى النَّارِ

“Tangan Allah di atas Al Jama’ah, dan barangsiapa menyempal maka ia menyempal menuju neraka”.

Jika Anda warga IJ, pasti tahu maksud ayat dan hadits tersebut dalam versi IJ. Akan tetapi berabad jauh-jauh sebelumnya para ulama Ahlussunnah sudah mengkajinya secara mendalam. Al Jama’ah yang dimaksud adalah persatuan di atas kebenaran ( al ijtima’ ‘alal haq), yakni siapa saja muslim yang berpegang pada Al Quran dan Assunnah dengan pemahaman Rasulullah صلى الله عليه و سلم dan para sahabat beliau (karena merekalah asal dari Al Jama’ah ini), kemudian diteruskan oleh ulama mujtahid/ ulama kibar sepanjang zaman. Inilah yang dimaksud dari ” al Jama’ah ” itu, yang Allah ta’ala perintahkan untuk menetapinya, lalu Allah larang kebalikannya yaitu bercerai berai dari agamaNya. Allah menghendaki persatuan para Ahli iman, sementara IJ tidak mau membaur dengan para ahli iman, dengan tidak shalat berjamaah bersama mereka dan puas dengan ilmu yang sangat minim.

7. Islam Jama’ah LDII merubah syariat Allah dan membuat para pengikutnya tertipu (maghrur).

‘Amir’ dan para pembesar Islam Jama’ahLDII telah memproklamirkan bahwa hanya ajaran merekalah yang benar, satu-satunya jalan menuju Sorga ( sesuai isi teks bulanan). Padahal sebagimana point-point di atas, sesungguhnya ajaran mereka telah rusak dari fondasinya. Bahkan dalam detail ajaran Islam Jama’ah LDII banyak permasalahan “ditarjih” lewat mekanisme musyawarah dan “ijtihad” imam, seringkali hasilnya bertentangan dengan nash-nash Al Quran maupun Al Hadits. Yang demikian kiranya disebabkan mereka tidak memahami bahwa Syariat Islam hanyalah milik Allah, hanya Dialah yang berhak menetapkannya, sedangkan para ulama mujtahid hanya berusaha menjelaskan kehendak Allah عز و جل tersebut tanpa sedikitpun memiliki hak untuk merubah, menambah, ataupun menguranginya.

Sayangnya para pengikut Islam Jama’ah LDII tidak memahami ini, yang menyebabkan mereka tertipu dengan diri sendiri, sudah merasa mendapat jaminan sorga, lalu tidak berusaha memahami dan mengamalkan ajaran Islam yang benar.

Demikian tujuh alasan kami meninggalkan Islam Jama’ah LDII, sebagai ringkasan pemahaman kami. Beberapa dalil – insyaAllah shahih-tidak kami cantumkan takhrijnya dengan maksud jika Anda adalah jokam (warga Islam Jama’ah) maka inilah zaman ketika khazanah ilmu syar’i terbuka luas, Anda dapat menanyakannya langsung kepada asatidzah Ahlussunnah yang mumpuni dalam ilmu hadits maupun ilmu syar’i pada umumnya. Inilah waktu kita mencari dan menggali kebenaran, tidak berdiam diri di dalam tempurung kekeliruan.

اللهم صل و سلم على نبينا محمد و على اله و صحبه اجمعين، و اخر دعوىنا ان الحمد لله رب العالمين.

Baca selengkapnya: BANTAHAN ILMIYYAH ISLAM JAMA’AH

39 Komentar

  1. Ilmu sangat minim? bagaimana minim, bahkan disini rakyat biasa saja yg bukan ustadz disajikan dalil” yg sangat menggugah keimanan, dalil itu dipetik dari hadist besar yg status sohih atau doif nya telah dipelajari dengan matang, mereka benar” selalu diajak menjauhj maksiat dan mengepolkan ibadah, bahkab diperintah supaya mempunyai amalan andalan, luar biasa mereka ini. islam jamaah memang sangat baik programnya guna mencegah kebodohan diakhir zaman ini

    1. Yang minim barangkali pada tafsir Al Quran dan syarah hadits dari para ulama besar, sehingga dakwah dan ibadah jokam tidak matching dengan muslimin khususnya para ulamanya. Demikian pula di dalam jokam tidak dikajikan secara khusus kitab – kitab ulama untuk memperdalam pemahaman terhadap Al Quran dan Al Hadits, seperti kitab dalam bidang tauhid dan aqidah serta manhaj.

  2. Alhamdulillah, masih diberi kesempatan bertaubat dari jokam, bisa kembali sholat berjamaah di masjid jami dekat rumah, bisa belajar kepada ustadz yg berilmu dan ulama’ dari mekah, madinah, Yordan dll, bisa bermuamalah dgn kaum muslimin dengan lahir bathin, bisa merasakan penderitaan saudara kita kaum muslimin baik di negeri ini maupun di belahan dunia yg lain, semoga Allah paring istiqomah. aamiin

  3. Alhmdlaahh…..saya masih di jamaah…dan akan memprbaiki yg salah”……saya gk spnuh’y mnjalan’n apa yg anda tuduhkan……kami gnerasi muda islam jamaah ini…akan mncari ilmu dgn sbaik”y….lalu kita prbaiki dr dalam yg krg”….

    1. Betul, perbaiki dari dalam… Klu anda telah keluar, anda tidak akan maksimal melakukan perbaikan di dalam… Butuh kesabaran yg luar biasa. Bagi saudara2 ku yg sdh tdk bisa sabar dan berjuang dari luar, berdakwahlah dg lemah lembut agar dakwah saudara didengar oleh yg masih ada di dalam dg izin Alloh SWT. pertama2 yg kami anjurkan adalah dakwah menghilangkan pengkafiran secara mutlak terhadap umat Islam yg lain di luar Jokam, dan inshaAlloh kesalahan2 yg lain akan lbh mudah dikoreksi, karena azas di dalam jokam adalah takfir mutlak kpd yg ada di luar jokam. Klu ada jokam yg tdk berazas takfir berarti saat ini menyelisihi keimaman, dan apabila dia pengatur atau pengurus inti niscaya masuk target dinon aktifkan… Itulah situasi saat ini yg terjadi.

  4. Tidak semua kaum lj menjadi pengekor, insya allah setelah ini generasi emas alquran alhadist yg berasal dari Ij sendiri yg akan memperbaiki nya, alhamdulillah sya masih di jamaah sya menghormati ulama sebagai mana menghormati ilmu, ini keyakinan saya ketika kita ada dikalangan yg banyak mengamalkan penyimpangan itu berati kita yg diutus untuk meluruskan bukan memisahkan diri bahkan membuat citra tidak baik, jazakallhukhoiro

    1. Memperbaiki dan meluruskan dari dalam itu baik, namun soal citra baik biarlah menjadi milik Islam, bukan menjadi milik kelompok-kelompok tertentu dalam Islam khususnya yang muncul belakangan dan memang terbukti membuat kesalahan. Bukankah saat kita kaji kitab ulama, nama Ahlussunnah sudah lahir di masa generasi sahabat, dan itu sudah mencukupi bagi muslimin untuk menisbatkan diri kepadanya ketika menjelaskan pendiriannya? Di zaman seperti ini kita membutuhkan persatuan, dan ingin mengurangi hizbiyyah yang membuat keretakan dan melemahkan umat secara keseluruhan.

      1. Ahsanta akhi.
        Thoyyib, ana sepakat dengan antum dalam hal ini. Cukuplah Islam dengan Islam itu sendiri. Tidak perlu lagi dengan adanya hizbi baru yang justru malah berpotensi besar membuat keretakan.

  5. Alhamdulillah…semakin terbuka lebar mata hati ini..atas izin Alloh..namun kebaikan2 yg kt dapat dr IJ ini terlalu banyak.maka kita akan bersama2 membantu ulama meluruskan aqidah IJ..meskipun mereka menganggap kt bermacam2,namun inilah cara kita berbuat ihsan,smg Alloh mengampuni kt dan sdr2 kt..

  6. mengapa pernikahan di dalam jokam di haruskan segolongan ?
    apakah tidak bisa misal menikah dengan orng d luar jokam ?
    lalu apakah benar terdapat nikah dalam dan nikah luar?
    dan apakah baiat itu harus?

    1. Assalamu’alaikum, mohon izin untuk share pengalaman. Belum lama ini ada ikhwan LDII yang ingin serius dengan saya. Tapi, ada syarat khusus, sebelum menikah, saya diharuskan masuk ke ormas tsb agar sejamaah (ikhwan tersebut bilang seperti itu). Saya juga pernah menanyakan, soal nikah dalam dan luar, ternyata benar ada. Akhirnya, saya pun menolak ajakannya karna menurut saya sudah diluar jalur (yang dimaksud agar sejamaah). Afwan jika ada kata-kata yang salah. Jzk

      1. sy juga di ajak untuk ikut ngaji di bersama mereka sebeluk menikah, alasannya biar paham dlu baru menikah.. dan sampai saat ini sy bingung, karena ibu tidak setuju sedangkan sy sdh dekat. entah ujungnya spt apa sy td tahu.

        1. Saya juga pernah dekat dengan seorang wanita dan berniat serius. Tapi setelah beberapa bulan dia bilang kalau tidak bisa lanjut dengan saya karena saya bukan bagian dari LDII. Kalo mau tetap lanjut, orang tuanya tidak akan datang ke acara pernikahan dll. Saya disuruh ikut ngaji dulu, dan setelah ngaji sekian bulan saya selalu pulang dengan keadaan resah karena mengatakan orang selain islam jamaah itu wajib masuk neraka. Kan keputusan masuk surga atau tidaknya seseorang ada di tangan Allah, kita tidak bisa semena2 bilang sesama muslim mereka wajib masuk neraka dan hanya kita yg wajib masuk surga. Setelah itu saya menyimpulkan bahwa wanita ini bukan untuk saya, dan akhirnya kami sepakat untuk berpisah

          Lebih baik tinggalkan saja

          1. Saya juga punya pengalaman,..!!!
            Saya Duda dan Calon Istri saya adalah Istri ketiga dari petinggi daerah LDII.. yang sudah di talak cerai,….
            Kalau saya pelajari susahnya bagi orang2 yang pernah ada di LDII adalah susahnya meninggalkan KOMUNITAS LDII. Karena, beberapa hal antara lain dianggap kafir kalau keluar dari jamaah, kekompakan diantara mereka serta fasilitas dan kemewahan yang diberikan oleh pengurus…..
            Bahkan setelah ditalak cerai, pengurus2 lainnya banyak yg berminat dengan calon saya ini, sebagai istri ke 3 dan ke 4…
            untung calon saya ini tidak mau…
            Aaamiin…

          2. Saya juga punya pengalaman,..!!!
            Saya Duda dan Calon Istri saya adalah Istri ketiga dari petinggi daerah LDII.. yang sudah di talak cerai,….
            Kalau saya pelajari susahnya bagi orang2 yang pernah ada di LDII adalah susahnya meninggalkan KOMUNITAS LDII. Karena, beberapa hal antara lain dianggap kafir kalau keluar dari jamaah, kekompakan diantara mereka serta fasilitas dan kemewahan yang diberikan oleh pengurus…..
            Bahkan setelah ditalak cerai, pengurus2 lainnya banyak yg berminat dengan calon saya ini, sebagai istri ke 3 dan ke 4…
            untung calon saya ini tidak mau…
            Aaamiin…

        2. Sama seperti yg sy alami.
          Awalnya sy merasa nyaman ikut pengajian, kemudian kadang muncul keraguan dan saya pun mulai bingung.
          Padahal sy sudah benar” kagum sama dia.nya.

  7. Kami sekeluarga tidak lagi bagian dari jamaah jokam/bapak imam burengan.
    Sejak kecil kami sekeluarga memang selalu mengutamakan cinta Al Quran, alhamdulillah hidayah datang sebagaimana yang Allah janjikan.

    Semoga semakin banyak yang sadar dan mendapat hidayah dari doktrin bithonah, imamiyah, taqqiyyah, takfiri

  8. Saya bener2 butuh kontak bapak-ibu sekalian yg pernah keluar dari Ldii untuk membantu saya menyelesaikan hubungan saya dgn calon suami saya yg LDII.. Dia mau keluar jamaah tp bingung dgn keluarganya.. Sya mohon dgn sangat bantuannya.. Kalo boleh saya minta kontaknya untuk biacara serius karna banyak yg mau saya tanyakan 🙏 tolong sangat 😭

  9. Saya pernah dekat dengan laki laki yg ternyata orang LDII, tahu apa kata keluarganya kepada saya?? Iya mereka bilang bahwa orang LDII tidak boleh menikah dengan orang lain selain LDII juga. Bahkan salah satu keluarga juga ada yg mengatakan kalau pernikahan akan dihukumi haram. 😊🙏🏼

  10. Mohon bantuan nya kak, saya memiliki calon yang seorang pria LDII, dia menyuruh saya ikut di pengajian nya atau mangkul, tetapi dalam hati kecil saya saya masih ragu dengan berbagai anggapan orang. Sedangkan kalau saya mau dinikahin saya harus ikut pengajian nya kalau tidak ibu nya tidak akan merestui. Menurut kakak apa yang harus saya lakukan.? mohon bantuan dan pencerahan nya kak

  11. Almarhum pakde saya adalah mantan imam LDII di derah pasar rebo – jaksel. beliau pensiunan polri sebelum meninggal. kemungkinan sudah masuk LDII saat masih aktif di POLRI. di POLRI dulu ada pelindung LDII berpangkat Jenderal namanya N. Wwaktu tinggal di Jkt, di rumah pakde tsb, saya tidak pernah dipaksa ikut ngaji LDII, beebrapa kali ditaari ,, tapi saya menolak.
    Sewaktu menikah, pakdhe saya yang jadi wali, karena ayah saya sdh meninggal. ibu dan kakak saya masih tinggal di jawa.
    Yang ajaib adalah… tetangga calon mertua saya, namanya pak Bambang, usut punya usut, tyt beliau adalah mantan petinggi LDII yang membelot. mantan tangan kanan madigol :))). Saya ngga bisa bayangkan perasaan pakdhe saya waktu itu .. he he he he … Al fatihah buat Alm pakdhe saya, Alm pak bambang dan Alm Ayah ibu dan Alm. mertua saya ….

  12. Masyaallah, sedih sih ada sodara jamaah yang lepas . Itu hak kalian, sebelum lebih jauh ,ada pertanyaan nih buat yang membagikan kisah nya,
    1. Se andil apa antum dalam mengurus jamaah?
    2.sudah kan antum mengkaji seluruh hadist besar maupun hadist himpunan?
    3.pernah kan antum ber baiat secara langsung keimaman?
    Yang mj boleh juga dijawab

  13. Assalamualaykum,

    Saudara-saudara sekalian baik yang Masih berada di IJ maupun sudah Wisuda. Sedikit cerita dari saya yang pertama kali Merasakan adanya kejanggalan dalam IJ pada tahun 2008. Pada saat itu Qadarullah saya berkenalan dengan beberapa anggota dari NII yang sejak kenal pertama mereka intens untuk mengajak saya bergabung dengan NII (Negara Islam Indonesia) , dalam proses tersebut mereka secara seporadis berusaha mendoktrin saya tentang hal-hal yang menjadi pondasi dari Kelompok ini.

    Pada saat itu saya mencoba mendengarkan apa yang disampaikan oleh “Mubaligh” mereka, dan saya menemukan beberapa hal yang sangat mirip atau sejenis dari doktrin-doktrin mereka dengan doktrin-doktrin yang disampaikan dalam IJ yaitu antara lain :

    1. Menyembunyikan Aqidah mereka dari khalayak umum, awalnya semua disampaikan secara sembunyi.
    2. Memiliki Struktur Organisasi Wilayah seperti adanya pemimpin Kelompok (dianalogikan seperti RW), Kepala Desa, Kepala Wilayah atau Daerah dan Pemimpin Tertinggi (Kepala Negara Islam Indonesia). Namun Kelompok ini benar-benar tersembunyi sehingga untuk bertemu dengan petingginya harus melalui beberapa tahapan.
    3. Untuk menjadi anggota atau warga negara NII harus berjanji sumpah setia / baeat dengan pimpinan mereka dimulai dengan Kepala Desa sampai nantinya akan bisa bertemu dan berbaeat dengan Kepala Negara apabila dalam prosesnya dinilai loyal dan berbakti.
    4. Mewajibkan adanya Setoran Wajib 10% untuk menunjang jalannya kegiatan Kelompok/Organiasasi/Negara. Dan hal ini adalah menjadi Tolak Ukur kepahaman.
    5. Semua orang di luar Kelompoknya adalah Kafir (Baik Muslim dan Non Muslim) dan Halal Darahnya.
    6. Berbohong/Berdusta atau menyampaikan cerita-cerita yang berbau mukjizat dalam menyampaikan doktrinasi serta menutup-nutupi hal-hal yang rahasia dalam kelompok mereka.
    7. Untuk yang 1 ini mungkin jauh lebih ekstrim dari IJ dimana mereka mendoktrin bahwa keluarga yang bukan kelompoknya adalah “musuh” yang harus di jauhi. Sehingga mereka benar-benar banyak yang memutus tali silaturrahim.

    Saat itu ketika akan di ajak untuk berbaeat bertemu dengan Kepala Desa kelompok mereka, saya memutuskan untuk menghilang dan memutus komunikasi. Namun atas hal-hal yang saya peroleh dari berinteraksi dengan mereka itulah yang membuat saya mulai mempertanyakan tentang pemahaman IJ.

    Butuh pencarian yang sangat panjang melawan gejolak kata hati mengingat sebelum masuk IJ saya adalah orang yang jauh dr ajaran Agama Islam, boleh dibilang agama saya Nol Besar pada saat pertama kali menerima pemahaman IJ. Dalam proses pencarian tersebut malah sempat membuat saya semakin Jauh dari Keimanan dengan banyak melanggar aturan-aturan Agama, setelah beberapa tahun terakhir saya renungi hal ini di dorong oleh pemahaman bahwa “Semua yang di luar IJ adalah di TOLAK/RODDUN”, sehingga gejolak jiwa masa muda saya malah mendorong saya untuk banyak melakukan pelanggaran syariat karena saya berfikir “Buat apa berbuat baik kalau akhirnya tertolak, mending maksiat aja sekalian”. Pada akhirnya saya menyadari bahwa doktrin “Selain IJ Tertolak”sangatlah berbahaya bagi kami-kami yang memang awalnya memiliki pengetahuan Agama yang terbatas.

    Qodarullah beberapa Tahun yang lalu saya diizinkan untuk beribadah ke Tanah Haram. Disanalah saya menyadari bahwa Agama Islam adalah Rahmattan Lil Alamiin, ketika saya melihat dan bertemu dengan ummat islam dari seluruh dunia dari berbagai suku bangsa dan ras. Dimulai dari hati yang bertanya-tanya “Mungkinkah orang-orang salih dengan hafalan Al Qur’an dan ibadah yang khusyuk ini semuanya sia-sia?”, hal ini yang membuat saya menyadari bahwa kita di Mata Allah Azza Wa Jalla adalah sama, yang membedakan adalah ketaqwaan masing-masing. Lebih lanjutnya saya juga semakin menyadari bahwa kebenaran Islam (bahkan Surga) tidak bisa di klaim oleh kelompok tertentu saja.

    Sejak saat itu saya mulai memperbaiki Keimanan dan Muamallah saya secara bertahap, mulai membuka diri untuk menimba ilmu agama seluas-luasnya dalam koridor Al Qur’an dan Sunnah. Saya tidak membenci atau memusuhi IJ, malah saya berharap suatu saat nanti kita semua bisa memiliki pemahaman yang sama tentang Agama Islam yang Rahmattan Lil Alamin.

  14. saya juga penasaran bagaimana nasibnya sekarang setelah keluar dr jamaah LDII.islam itu indah kok tidak memberatkan yg berat itu hatinya krn menuju jalan surga itu memang berat sekali.

  15. Saya hampir 4 tahun hidup dan menimba ilmu dilingkungan itu ( pondok Burengan), di era Abah Jubaidah Lubis (Amir pertama) sampai era cak Thohir ( Amir ke 2), Alhamdulillah saya akhirnya berani untuk melanjutkan langkah dan keluar dari lingkaran itu. Tidak semuanya buruk namun disana bukan jawaban dalam pencarian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Jokam Sejati Tidak Akan Bisa Menipu Diri Sendiri

Untuk apa Allah menurunkan agama, syariah bagi manusia? Menurut Imam Syatibi syariah bertu…