ldii.or.id
Home Nasehat Jika Kau Keluar dari Jokam
Nasehat - 20 Januari, 2019

Jika Kau Keluar dari Jokam

Disuruh membayangkan keluar dari jokam? Ah, engga banget deh! Sayang sorganya lepas. Apalagi bagi jokam “bibit unggul” (yang dari lahir sudah berstatus sebagai warga Islam Jamaah, karena keturunan), tidak ada gambaran sama sekali bagaimana rasanya beribadah, khususnya shalat, dengan “orang luar”.

Saudaraku, mari kita bayangkan jika kau keluar dari Jokam. Tentunya, insyaAllah, ini bukan berandai – andai yang buruk. Kita memang tidak boleh banyak berkhayal, laa tatakhayyal janganlah berkhayal, apalagi jika yang dikhayalkan adalah sebuah kemaksiatan, atau sesuatu yang netral tapi mustahil terwujud.

Akan tetapi seorang pemuda butuh “mimpi”. Bahkan ia harus bermimpi besar, meletakkan cita – citanya di langit yang tinggi. Islam mengajarkan agar para pemuda memiliki himmah ‘aliyah ini. Dari sana, tidak mengapa sekali waktu seorang muslim berfikir dan merencanakan langkah ke depan, mari kita berandai – andai namun dalam objek yang managable, dapat kita jangkau dengan kemampuan kita.

Saudaraku, jika kau keluar dari Jokam, pertama kali yang harus kau coba adalah shalat berjamaah di masjid jami’ terdekat. Begitu pertama kali kau melakukannya, pasti terasa aneh dan sangat kikuk. Itu kami – para mantan – alami, sekali lagi terutama para mantan ” bibit unggul”. Ada rasa was-was dan gamang, seolah berpijak di udara. Akan terfikir, apakah shalat yang dikerjakan barusan sudah sah? Tidakkah harus mengulangi shalat ..? Sebagian ikhwah bisa segera mengatasi ini dengan cara, misalnya meminta nasihat kepada yanh sudah lebih lama hijrah, akhirnya hati pun menjadi tenang. Jangan lupa, dalam fase ini seorang jokam yang baru hijrah harus memperbanyak thalabul ilmi, mendatangi majelis – majelis ilmu para Ustadz Ahlussunnah, agar segala “noda membandel” syubhat pemahaman terkikis dari jiwanya. Umumnya, setelah beberapa bulan, aktivitas shalat berjamaah di masjid jami’ akan terasa luar biasa nikmat. Apalagi jika kita shalat di masjid besar yang jamaahnya ratusan atau ribuan, benar – benar terasa kebesaran Allah subhanahu wa ta’ala, sementara kita para hamba yang dha’if ini telah diberi taufiq untuk memenuhi panggilanNya, melebur dalam persaudaraan imaniyyah dengan muslimin.

Seusai shalat, kau bisa menyapa para jamaah dengan sapaan yang tulus. Ini juga dapat kau lakukan di tempat lain, dengan kawan – kawanmu yang muslim. Maksud ketulusan di sini adalah kau mengakui dalam hati bahwa mereka adalah saudara seiman, yang memiliki hak – hak tertentu dalam Al Quran maupun al Hadits, sebagaimana telah kau kaji bahkan sejak masih jokam. Mereka pantas untuk dicintai. Kenali kawanmu lebih dalam, sekiranya ia adalah seorang yang shalih. Bahkan dalam pergaulan selanjutnya, kau akan dapati bahwa setiap muslim memiliki kelebihannya masing-masing, dimana kita dapat berkaca diri dan belajar dari mereka.

Jika kau sudah cukup lama mengikuti kajian – kajian sunnah, dan syubhat baiat – takfiri sudah lepas dari hatimu, kau bisa sharing dengan kawan – kawanmu. Kau boleh saja membawakan sebuah ayat atau hadits yang sederhana, tatkala mengingatkan mereka tentang suatu hal, dan kau bisa berharap kepada Allah tabaraka wa ta’ala semoga sedikit yang kau sampaikan berpahala, apalagi jika mereka menerima nasihatmu. Ini tentu berbeda dengan saat masih berada dalam Islam Jamaah, dimana amalmu percuma sampai kau berhasil mengajak mereka berbaiat kepada “sang imam”.

Kemudian, jika kau memiliki pekerjaan yang bagus atau Allah ta’ala memudahkan rizkimu, kau dapat memperbanyak shadaqah kepada para fuqara kaum muslimin. Saudaraku, kau akan lihat bagaimana keadaan umat setelah berbaur dengan mereka. Lihat umat yang besar ini, hampir satu setengah milyar di seluruh dunia, membutuhkan jiwa-jiwa dermawan yang tidak terbelenggu dalam fanatisme kelompok. Mulailah dari skala kecil di lingkunganmu, santuni faqir miskin, kau akan mendapat balasan dan karunia sebagaimana telah kau kaji dalil-dalilnya bahkan semenjak masih jokam. Hanya saja dulu kita kurang tertarik dengan amal ini dan lebih memprioritaskan setoran ke pusat. Gerakan shadaqah ini, jika kau mulai, dan telah dikerjakan oleh muslimin lain, merupakan langkah nyata untuk meraih kejayaan umat. Kau akan tahu bahwa sebagian dari kaum dhu’afa muslimin, anak-anak mereka membutuhkan pendidikan dan tarbiyah islamiyah yang mereka butuhkan sebagai bekal di kemudian hari.

Saudaraku, kalau kau sekarang belum memiliki gambaran yang jelas sekeluar dari jokam, tidak mengapa. Berdoalah kepada Allah ta’ala agar Dia karuniakan kehidupan yang baik bagimu. Sebuah kehidupan yang indah serta dipenuhi keberkahan, dunia terasa luas, masjid -masjid bertebaran di mana-mana menunggumu kapan saja kau mau bermunajat kepada Rabbmu.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الٓاخِرَةِ حَسَنـَةً وَ قِنَا عَذابَ النَّارِ .

4 Komentar

  1. Hahaha saya banget, ketika pertama kali ikut sholat berjamaah dengan ustadz yg bacaannya indah, sungguh merasuk ke hati, dan dalam hati saya terpercik pertanyaan “sebaik dan sebagus bacaan ini, ratusan makmumnya, apakah masuk neraka?” Dari sana saya mulai menggali lebih dalam tentang islam.

  2. True story, pertama kali saya sholat jumat dimasjid umum dikantor sy, sejak dr wudlu rupanya ada yg merhatikan saya,. Setelah yakin saya benar2 sholat dimasjid tsb, sblm khutbah dimulai dia sentuh tangan sy ajak salaman dgn muka penuh heran dan bilang hbs sholat jgn kemana2 minta waktu bicara sebentar….
    Nah benar sj setelah wirid usai buru2 kawan sy merapatkan dirinya kesaya dan bertanya penuh heran, kenapa sholat di sini ? (Biasanya sy kabur sholat kemasjid jokam)… Sy sedikit kaget, akhirnya sy ceritakan perjalanan hijrah sy, kawan sy berkaca2 sambil peluk sy dan dia berkata bahwa sdh lama ingin nasehati saya cuma ga berani dan berharap sy sgr sadar…….
    Masya Alloh, rupanya kawan yg tdnya kita anggap kafir rupanya dengan tulus memiliki harapan2 kebaikan atas diri saya…….
    Masya Alloh .. malu sekali diri ini, semoga Alloh ampuni dosa ana….

  3. Awal pertama saya hijrah, awalnya murni karena di nonaktifkan nya 4 ulama jokam, dr situ sy berfikir, ada yang sebenarnya terjadi. Berawal dr rasa ingin tahu, ahirnya tabayun, menggali informasi sana sini, denger ceramah ustad² sunnah. Paling sering denger ceramahnya ustad khalid basalamah, dan saat itu sy berfikir, apakah ustad khalid basalamah & jamaah yg ikut pengajian beliau masuk neraka??? Karena amal nya tdk sah & dan kafir??

    Dari situ alkhamdulilah dgn izin Alloh akal sehat saya bisa berfungsi dgn baik.

    Dan berlanjut sampe skrg hehe

  4. Sejak putri saya berusia 9 tahun saya mulai berfikir,apakah putri saya akan saya ajak mengikuti agama yang ada faham orang dalam/orang luar…bermuka dua…saya pun sudah jengah berperilaku seperti ini sejak SMP tahun 87
    Tahun 2018 keputusan saya sudah bulat,tidak lagi berlelah lelah bitonah bitonahan…Agama ISLAM lebih indah daripada pemahaman IJ
    Alhamdulillah hati saya tak seperti batu lagi…nasihat2 ulama berdasarkan faham salafushalih lebih masuk akal dan melembutkan hati daripada pokoke manqul..
    Ora manqul ora sah..manqule yo kudu soko njero sing murni…yen ilmu soko njobo ibarat lewat got,lewat kali,kotor, banyak ro’yu,maaf t**k mbonjrot…itulah pemahaman yang saya dapat puluhan tahun di IJ

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Jokam Sejati Tidak Akan Bisa Menipu Diri Sendiri

Untuk apa Allah menurunkan agama, syariah bagi manusia? Menurut Imam Syatibi syariah bertu…