manqul ldii
Home Bantahan Ilmiyyah Bantahan Manqul: Ulama Salaf Menerima Riwayat dari Kertas
Bantahan Ilmiyyah - 24 Januari, 2019

Bantahan Manqul: Ulama Salaf Menerima Riwayat dari Kertas

Dalam ilmu hadits terdapat istilah wijadah, dengan dalil sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seperti yang telah kami sebutkan pada bagian keenam. Sebagian ulama hadits telah menerima riwayat wijadah tanpa mempersoalkannya, asalkan ada kepastian keshahihan teks yang diwijadahi. Dalam Kutubusittah saja terdapat riwayat wijadah, sebagaimana dalam Sunan Abu Dawud (1/289) no. 1108,

Menceritakan kepada kami Ali Ibn Abdullah, menceritakan kepada kami Mu’adz ibn Hisyam*, beliau berkata, “Aku menemukan dalam kitab bapakku dengan tulisan tangannya dan aku tidak mendengar hadits ini dari beliau”. Beliau berkata: Qatadah dari Yahya ibn Malik dari Samurah ibn Jundub… dan seterusnya sampai akhir hadits.


* Dan telah ma’ruf diketahui kebiasaan wijadahnya Mu’adz ibn Hisyam oleh Ahli Hadits, sebagaimana disebutkan dalam riwayat hidupnya, lihatlah: Adz-Dzahabi dalam Mizan Al-I’tidzal (6/453 – Darul Kutub Al-Ilmiyah),beliau berkata : “Mu’adz ibn Hisyam ibn Abi Abdillah Al-Dastawa’i AlBashri, shaduq, shohibul hadits dan terkenal”. Berkata Ibn Madini, “Disisinya ada sekitar sepuluh ribu hadits dari Ayahnya”. Al-Mizzi dalam Tahdzib Al-Kamal jilid (28/139 -143) no. 6038 – cet Mu’asasah Ar-Risalah, disana disebutkan bahwa jika Mu’adz mendengar dari ayahnya, dia berkata, “Ini aku mendengarnya (langsung)”, kemudian jika tidak, dia berkata, “Ini tidak didengar (langsung) darinya”.Lihat pula : Bukhari dalam Tarikh Al-Kabir (7/366) biografi no. 1572, Ibn Hibban dalam Ats-Tsiqat (9/176) no. 15857 –Darul Fikr. Ibn Hajar dalam Taqrib At-Tahdzib (1/536) no. 6742 -Dar Ar-Rasyid, dan lainnya

Hadits ini dari jalur wijadah Ibnu Hisyam, diriwayatkan pula oleh:

  • Imam Ahmad (w. 241 H/ 855 M) dalam Musnad (5/11) no. 20130,
  • Imam Al-Hakim v (w. 405 H/ 1015 M) dalam Al-Mustadrak (1/427) no. 1068,
  • dan Imam Baihaqi v (w. 458 H/ 1066 H) dalam Sunan (3/238) no. 5722.

Walaupun tidak termasuk dalam kaidah manqul Nur Hasan, Imam Al-Hakim malah berkata tentang hadits ini, “Shahih berdasarkan syarat Imam Muslim”, yakni artinya sanad hadits ini termasuk dalam kategori shahih menurut Imam Muslim (w. 261 H/ 875 M) dalam Shahihnya, pendapat Al-Hakim disepakati Al-Hafizh Adz-Dzahabi (1/289).

Dan hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam ash-Shahihah no. 365.

Banyak sekali Ahli hadits yang meriwayatkan hadits-hadits wijadah semisal ini, tentu tidak mungkin penulis sebut semuanya, akan tetapi hanya sebagian contoh saja. Penulis akan sebutkan dengan no dan halamannya agar pembaca mudah merujuknya langsung:

1. Imam Ibn Sa’ad (w. 168 H/ 785 M) dalam Thabaqah (1/70),

2. Imam Abdurrazaq (w. 211 H/ 827 M) dalam AlMushanaf no. 1134, 4335, 9473,

3. Imam Ibn Abi Syaibah (w. 235 H/ 850 M) dalam Mushanaf (1/344/4) dan (6/304/5),

4. Imam Abd ibn Hamid (w. 249 H/ 863 M) dalam Musnad (1/193) no. 182,

5. Imam Ibn Abi Dunya (w. 281 H/ 894 M) dalam Sifatul Jannah no. 154,

6. Imam Al-Bazzar (w. 292 H/ 905 M) dalam Musnad no. 1116 (no. 53 – Musnad Sa’ad) atau dalam Bahrul Zakhr (3/355) no. 998,

7. Imam Abu Ya’la (w. 307 H/ 920 M) dalam Al-Musnad (14/194) no. 6759,

8. Imam At-Thabari (w. 310 H/ 923 M) dalam Tahdzib Al-Atsar (3/42) no. 650,

9. Imam Abu Awanah (w. 316 H/ 928 M) dalam Mustakhrij-nya (5/361) no. 2030,

10. Imam Ath-Thahawi (w. 321 H/ 933 M) dalam Musykilul Atsar (4/104),

11. Imam Ibn Abi Hatim (w. 327 H/ 938 M) dalam Tafsir no. 6843, 7537, 14059, dan 16412,

12. Imam Thabrani (w. 360 H/ 971 M) dalam Mu’jam AlKabir (3/169) no. 3026 dan Al-Ausath (5/327),

13. Imam Ibn Sunni (w. 364 H/ 974 M) dalam Amal Yaum Wal Lailah (2/305) no. 422,

14. Imam Al-Lalikai (w. 408 H/ 1027 M) dalam Al-Ushul (1/455) no. 383,

15. Imam Abu Nu’aim (w. 430 H/ 1038 M) dalam Hilyatul Auliya (4/179).

16. Imam Ibn Abdil Bar (w. 463 H/ 1071 M) dalam Jami Al-Bayan Al-Ilmu (1/234) no. 218,

17. Imam Ibn Atsakir (w. 571 H/ 1176 M) dalam Tarikh Dimasyq (7/82), (9/434) dan lainnya banyak sekali.

Apakah pantas jika kita mengkafirkan para ulama diatas karena telah membolehkan riwayat yang tidak manqul ala Abah Nurhasan dan telah beramal dengan riwayat tersebut?. Kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari mengkafirkan kaum muslimin terutama para ulamanya*.


* Sebagian juhala mengatakan kalau wijadah para ulama itu dilakukan karena adanya hubungan nasab dengan penulis tulisan yang diwijadahi, atau karena mereka adalah muridnya langsung. Padahal wijadah para ulama itu bersifat umum, kadang tidak ada hubungan darah atau bahkan tidak pernah berjumpa sama sekali dengan penulis yang diwijadahi, sebagian contohnya telah kami sebutkan pada bagian enam tadi. Adapun persyaratan harus adanya nasab atau harus tulisan gurunya, maka tidak ada ulama yang menyebutkan wijadah dengan syarat-syarat ini, hanya mereka yang mencari-cari alasan dari pembenaran kaidah batilnya.

Untuk selengkapnya silahkan baca melalui laman ini

Disadur dari Kitab Bantahan Ilmiyyah untuk Islam Jamaah: Seri 1 Manqul Dan Serba Serbinya karya Ustadz R. Aulia Rahman Abdillah as-Surianji

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Jokam Sejati Tidak Akan Bisa Menipu Diri Sendiri

Untuk apa Allah menurunkan agama, syariah bagi manusia? Menurut Imam Syatibi syariah bertu…