bunglon jokam
Home Artikel Akhlak Beginilah Nasib Para “Bunglon”
Akhlak - Nasehat - 29 Januari, 2019

Beginilah Nasib Para “Bunglon”

Bunglon! Ya, julukan yang sangat tidak manusiawi. Entah siapa yang pertama kali mencetuskan istilah ini, kami atau mereka. Yang pasti media besar belum tertarik untuk menuliskannya. Sebenarnya topik ini menarik, namun umumnya menguraikan sejarah Islam Jama’ah terhitung sulit. Banyak kronologi yang samar, sulit divalidasi, apalagi oleh anggota Islam Jamaah itu sendiri yang terbiasa menerima apa yang dikatakan oleh “Pusat” itulah yang benar.

Dalam kesempatan ini kami uraikan gambaran umum yang insyaAllah merupakan realitas yang benar-benar terjadi.

Bunglon adalah istilah bagi kawan – kawan kita yang sudah memahami dengan hati dan pikirannya bahwa Islam Jamaah adalah sesat, namun karena situasi dan kondisi mereka masih terlibat dalam aktivitas Islam Jamaah. Ada misalnya seorang pelajar yang masih remaja, namun Allah ta’ala menerangi hatinya dengan cahaya hidayah, sehingga ia bisa mengenali ketidakberesan dalam Islam Jamaah. Ada seorang ibu, yang sejak sebelum pernikahannya dengan suaminya telah mengaji di Islam Jamaah, lalu setelah memiliki beberapa anak ia sadar bahwa apa yang selama ini ia yakini ternyata salah. Bahkan ada seorang bapak, yang telah menikah dengan sesama anggota Islam Jamaah, lalu sadar, namun istrinya tidak bisa memahami apa yang ia telah jelaskan selama berbulan – bulan bahkan bertahun tahun. Banyak lagi kasus yang lain, dengan variasi cerita yang berbeda, semoga pembaca dapat memahami apa yang kami maksudkan.

Menjadi seorang bunglon tidak menyenangkan. Siapa sih yang mau disebut bunglon? Mereka harus menyesuaikan diri secara terus menerus dalam bersikap, kadang begini ketika bertemu dengan warga Islam Jamaah, lalu begitu ketika berkumpul bersama muslimin umumnya atau dengan para mantan Islam Jamaah. Satu hal yang membuat mereka bersyukur, yaitu para mantan Islam Jamaah tidak menyebut mereka sebagai orang – orang munafiq. Berbeda dengan warga Islam Jamaah, barangkali mereka menganggap para bunglon ini betul – betul munafiq sebagaimana dalam istilah syar’i, akibat mereka salah kaprah tidak bisa membedakan mana muslim dan mana kafir.

Para bunglon memiliki hati dan pemikiran yang inshaf, lalu mereka berusaha menggali ilmu syar’i dan menemukan kebenaran. Seorang muslim yang hanif pasti akan berusaha mengamalkan apa yang sudah ia ketahui sebaik mungkin, namun keadaan mereka menghalangi. Seorang remaja yang ingin rujuk kepada manhaj ahlussunnah hanya bisa mempraktikkan apa yang ia mampu, karena jika ia memutuskan pergi dari orang tuanya ia belum mampu menafkahi kebutuhannya sendiri. Dalam beberapa kasus, pada kondisi seperti ini orang tua mereka yang masih jokam akan menekan supaya anaknya “bertaubat” kembali kepada “jalan yang benar”. Orang tua tersebut ingin agar anaknya kelak tidak masuk ke dalam neraka, mereka mengandalkan jaminan “imam” akan sorga bagi diri dan keluarganya. Sangat memprihatinkan.

Hal yang mirip terjadi juga terhadap para ummahat, para ibu yang telah memiliki anak – anak, sedangkan seratus persen nafkah keluarga diberikan oleh suami yang masih jokam. Selain bahwa meminta cerai bukanlah cara yang bijaksana, sebenarnya masih ada harapan permasalahan ini diuraikan bersama, oleh semua pihak, duduk bersama agar mafsadat dapat diangkat dari umat. Kami para mantan IJ sendiri tidak menganjurkan para ummahat yang berada dalam situasi ini untuk meminta cerai. Memang berat berada dalam kekuasaan kesesatan, semoga bisa meneladani figur istri Fir’aun yang tetap sabar menghadapi suaminya, apalagi dalam hal ini para suami Islam Jamaah ini masih muslim.

Bagi para suami bunglon, kondisi keluarga yang masih jokam benar – benar membuat serba salah. Tidak mudah menyadarkan istri dan anak – anak. Sesekali mungkin akan terfikirkan untuk menceraikan istrinya, namun pasti banyak yang dipertimbangkan. Bagaimanapun bunglon bukanlah buaya yang seenaknya gonta – ganti istri. Mereka memiliki niat yang ikhlash dari sejak pertama menikah, dan ingin istiqamah membangun rumah tangga yang Islami. Namun seringkali, dalam banyak kasus, intervensi dari mertua dan keluarga besar istri yang juga anggota IJ menentukan kehancuran bahtera rumah tangga ini. Orang tua istri memisahkan keduanya, dengan klaim bahwa suami sudah “murtad” dan sudah tidak halal hidup bersama. Sangat menyakitkan. Terbayang jika ia memiliki anak-anak yang masih kecil, wajah-wajah polos anak yang terpisah darinya pasti membuatnya sedih siang dan malam. Anak-anak ini masih membutuhkan perlindungan dan pendidikan ayahnya, namun ajaran takfiri telah merobek-robek masa keemasan pertumbuhan mereka. Ya Allah, kepadaMu kami mengadukan semua musibah ini.

*

Ada tipe lain dari bunglon, yakni kawan – kawan kami yang sudah hijrah total dari semua keyakinan dan ajaran IJ yang keliru, bersama keluarganya, namun mereka masih tinggal di dalam komplek Islam Jamaah. Sebagaimana diketahui bahwa Islam jamaah mengembangkan sistem “kantong”, mereka membuat komplek – komplek perumahan dengan masjid khusus mereka. Para ikhwah yang masih tinggal di komplek ini tidak bisa dengan mudah menjual rumahnya lalu pindah ke tempat lain. Siapa yang mau membeli rumah dan hidup di tengah-tengah warga Islam Jamaah? Karena kondisi ini, akhirnya para ikhwah bersabar tetap tinggal, meskipun seringkali mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari warga IJ. Ikhwah yang memiliki keberanian dan bekal ilmu yang cukup, justru akan menghadapi para jokam ini dan selalu siap untuk berdiskusi kapan saja diminta. Untuk jenis yang terakhir ini, apalagi bagi kalangan yang lebih ” elit”, kami para mantan IJ sangat mengharapkan kerjasamanya. Semoga dengan gerakan kita menyadarkan Islam Jamaah baik dari luar maupun dari dalam mendapat perlindungan, pertolongan, dan kemudahan dari Allah Rabbul ‘alamin

اَللّٰهُمَّ لَا سَهْلَ اِلَّا مَا جَعَلْتَهُ سَهْلًا وَ اَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ اِذَا شِىْٔتَ سَهْلًا …

” Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah. Sedangkan yang susah dapat Engkau jadikan mudah, apabila Engkau menghendakinya…”

(Doa shahih sebagaimana diriwayatkan imam Ibnu Hibban dan Ibnu Sunni, dinyatakan shahih oleh Al Hafizh Ibnu Hajar al Atsqalani dan Syaikh Al Albany dalam sisilah al ahadits ash-shahihah no. 2886).

11 Komentar

  1. Jadi serius gini yak bahas bunglon, heheh… Bahas dari sisi intelejen dong. Atau ulik lika liku tim bunglon kita di istana, wkwkwk…

    1. Wkwk..dulu zaman masih jokam pernah baca kelirumologi di salah satu media. Kalau sekarang pastinya lebih puas membedah syubhat/kerancuan dengan pisau analisis yang diajarkan ulama Ahlussunnah. Hanya heran, kenapa ada banyak muballigh dan akademisi jokam yang terjebak dalam kekeliruan, padahal banyak fakta ketidakberesan muncul ke permukaan. Ayolah jangan kalah sama kelirumolog itu..

  2. Saya belom berani men share..karena masih takut di ceraikan oleh istri saya..karena dianggab kena pengaruh.. Saya bisa di dholimi…🙏🙏oleh mertua bahkan ibu kandung saya sendiri…. Bagai mana caranya.. Supaya mereka sadar akan hidayah ini… Saya selalu berdoa.. Dan berdoa…

  3. Haa….
    Baru nyadar kalo ana ternyata pernah jadi bunglon juga….. Lamaa sekali…. Sampe keluarga inti sdh mengenal sunnah…. Tapi masih keenakan jadi bunglon .. sampe suatu saat Alloh memperlihatkan Kebunglonan saya
    ….
    Akhirnya malah semakin istiqomah menjalankan sunnah dan semakin tegas onggalin syubhat jokam ..

  4. Wkwk..dulu zaman masih jokam pernah baca kelirumologi di salah satu media. Kalau sekarang pastinya lebih puas membedah syubhat/kerancuan dengan pisau analisis yang diajarkan ulama Ahlussunnah. Hanya heran, kenapa ada banyak muballigh dan akademisi jokam yang terjebak dalam kekeliruan, padahal banyak fakta ketidakberesan muncul ke permukaan. Ayolah jangan kalah sama kelirumolog itu..

  5. Janganlah menuduh saudaramu dengan sebutan yang merendahkan, karena jika anda mengklaim sebagai penganut ahlus sunnah, sebaiknya anda bercermin. Apakah anda sudah tabayun dg saudara anda yg anda tuduh “bunglon” tsb? Mengapa mereka harus berjuang dg jalan spt itu? Dalam berdakwah ada metodologinya, anda mengambil jalan dari luar dan saudara anda mengambil jalan dari dalam. Pergunakan kalimat yang baik untuk saudara anda, agar klaim ahlus sunnah itu layak disematkan untuk anda.

  6. Jangan salah, beberapa bunglon memang sengaja jadi bunglon meskipun sebetulnya dia mampu keluar dari jm secara total. Ada beberapa alasan mereka sengaja menjadi bunglon, antara lain : berperan sebagai intelejen, berusaha membenahi jm dari dalam, dan yang paling extrim adalah ada kemungkinan mereka memang mau menggembosi jm dari dalam.
    Saya sendiri adalah bunglon tipe ini dengan alasan nomer dua, saya dalam jm berposisi sebagai pengurus (wakil imam kelompok), misi saya adalah menyusupkan nasihat-nasihat tauhid kepada para jm terutama para pemuda. Sebenarnya ya tinggal nunggu waktu saja saya dicurigai dan dimurtadkan..hehe…

  7. Alhamdulillah setelah baca2 artikel di web “mantan islam jamaah” ini saya justru lebih mantep lagi dan merasa benar tentang jamaah itu sendiri dan semakin bangga dengan organisasi LDII, karena dengan adanya web ini, saya jadi tahu kekurangan LDII dan segera berbenah diri tanpa harus keluar dari jamaah. Sekali lagi terimakasih. Ternyata betul istilah ttg “beribu2 cobaan, berjuta2 pertolongan, bermilyar2an kemenangan, surga pasti” itu betul ada pada jamaah, contohnya cobaan tentang banyaknya jamaah yg keluar. tinggal kita tunggu pertolongan serta kemenangan dari Allah. Amin Ya Allah….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Jokam Sejati Tidak Akan Bisa Menipu Diri Sendiri

Untuk apa Allah menurunkan agama, syariah bagi manusia? Menurut Imam Syatibi syariah bertu…