empat perkara
Home Nasehat Kita Akan Ditanya Tentang Empat Perkara
Nasehat - 31 Januari, 2019

Kita Akan Ditanya Tentang Empat Perkara

Hidup ini amatlah singkat. Nafas demi nafas kita hembuskan, dalam ketaatan maupun kelalaian. Hari demi hari berlalu, ajal pun kian mendekat. Serasa masih kemarin saja kita berlari – lari bersama anak – anak lain, ketika hari ini tersadar dari kenangan ternyata kita sudah beruban. Al Imam Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan,

يَا ابْنَ آدَمَ اِنَّمَا اَنْتَ اَيَّامٌ، فَاِذَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ …

“Wahai manusia, sesungguhnya engkau adalah kumpulan hari – hari, ketika satu hari berlalu hilang pula sebagian dari dirimu … “ ( Hilyatul Auliya 2: 148)

Alangkah malangnya manusia, jika hari – hari terlewat begitu saja tanpa mendapat bekal untuk perjalanan panjang menuju negeri akhirat. Ketika ruh dicabut, lalu jasad tanpa kehidupan itu dikafani dan dikuburkan, sesungguhnya fase yang baru sedang dimulai. Masa penantian di alam kubur tidaklah menyenangkan, terutama bagi siapa saja yang membawa beban berat di pundaknya.

Ketika Sangkakala kedua ditiup, dan manusia seluruhnya dikumpulkan di hadapan Rabbul ‘alamin, saat itulah kegelisahan hebat mencekam, rasa yang belum pernah dialami di dunia. Setiap orang akan dihisab dengan seadil – adilnya, lalu akan ditentukan nasibnya apakah ia akan menjadi yang beruntung ataukah yang binasa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallama bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al Imam At-Tirmidzirahimahullah :

لَا تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ اَرْبَعٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا اَفْنَاهُ وَ عَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا اَبْلَاهُ وَ عَنْ مَالِهِ مِنْ اَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَ فِيْمَ اَنْفَقَهُ وَ عَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ فِيْهِ.

“Tidak akan bergeser dua kaki seorang hamba pada hari Qiyamah sehingga ia ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya darimana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan, dan tentang ilmunya apa yang ia amalkan dengannya”.

Sungguh itu adalah hari yang sangat berat. Mari kita tanya diri kita masing – masing, dua puluh tahunkah atau tiga puluh atau limapuluh tahunkah kita lalui dalam kelalaian, bahkan kezhaliman?

Apakah hari – hari yang dilalui dipersembahkan kepada Allah ‘azza wa jalla ataukah untuk sebuah kekuasaan yang batil?

Khususnya masa muda, di saat para pemuda muslim menghabiskan waktunya untuk menuntut ilmu yang shahih, sedangkan kita melaluinya dengan mencampur-adukkan kebenaran dengan kebatilan. Masa muda sangatlah berharga. Untuk itu, para orang tua dan siapapun yang memiliki “kekuasaan” atas mereka seharusnya tidak menyia-nyiakan masa emas ini. Jika waktu telah berlalu empat puluh tahun, seseorang akan menyesal ketika orang – orang sebayanya telah mahir berbahasa Arab, hafal Al Quran dan ribuan hadits, mengetahui isi kitab – kitab ulama besar, sedangkan kita tak memiliki walaupun sepersepuluhnya, padahal hari demi hari selalu digunakan untuk mengaji. Ada apa ini …?

Harta juga akan dihisab, darimanakah harta itu diperoleh dan kemana dibelanjakan. Para dhu’afa pada hari itu barangkali akan merasa lega, ia telah mengais rizki dengan cara yang halal, kemudian menggunakannya untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Sebagian akan ia infaqkan, ia pasrah dan ikhlas akan digunakan untuk apa saja oleh orang yang menguasainya. Biarlah pada hari ditegakkannya hisab mereka yang akan menjawab, untuk apa hasil jerih payah memeras keringat itu dibelanjakan.

Pada saat itu barangkali orang – orang kaya pun menyesal, mengapa dulu harta sebanyak itu tidak diinfaqkan ke pos lain. Masih terlalu banyak faqir miskin yang hidup kekurangan daripada membiayai kehidupan hura – hura. Masih banyak pondok pesantren yang melahirkan lulusan berkualitas, ia seharusnya menginfaqkan uangnya ke sana alih – alih membiayai pesantren abal – abal yang bersemboyan bahwa orang awam akan lebih faham terhadap agama daripada orang berilmu. Agama apakah itu…?

Baca juga: Ciri-ciri Khawarij

Orang yang memiliki ilmu, ia pun akan ditanya apa yang sudah ia amalkan. Semakin banyak ilmu, semakin besar pula kewajiban di pundaknya. Ilmu bersama harta, seharusnya digunakan untuk sebesar-besarnya maslahat umat. Apalagi bila dipadukan dengan kekuasaan, ketiganya merupakan modal meraih kejayaan dan kecemerlangan, bukan sebaliknya malah terpuruk di dalam ketakutan. Ketakutan diketahui identitasnya, ketakutan diketahui ajarannya, takut ketahuan bahwa sebenarnya ia tak memiliki konsep yang benar dalam membawa sejumlah besar manusia untuk mentauhidkan Allah ‘azza wa jalla dengan sebenar-benarnya pengabdian.

Sekarang mari bermuhasabah saudaraku. Tak usah menyalahkan orang lain, salahkan diri kita sendiri dan ambillah tanggung jawab sebelum datang hari dimana tanggung jawab tidak dapat dialihkan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Jokam Sejati Tidak Akan Bisa Menipu Diri Sendiri

Untuk apa Allah menurunkan agama, syariah bagi manusia? Menurut Imam Syatibi syariah bertu…