Home Artikel Aqidah Dulu Kita Mengira
Aqidah - Artikel - Bantahan Ilmiyyah - Ibadah - 23 Juli, 2019

Dulu Kita Mengira

Dulu kita mengira, jika sudah mengaji dengan menerjemahkan Al Qur’an dan Al Hadits, kata per kata, sudah pasti benarnya. Ternyata masih bisa salah, jika cara menafsirkannya (menerangkannya), cara beristidlal (meletakkan dalil), dan cara beristimbath (menarik hukum dari dalil)-nya tidak benar.

Dulu kita mengira, jika sudah belajar agama dengan metode manqul musnad muttashil, sudah pasti murni Islamnya. Ternyata kemurnian Islam hanya bisa didapat dengan mengikuti cara beragama dan pemahaman para shahabat.

Dulu kita mengira, kitab kitab karangan ulama’ tidak perlu dipelajari. Cukup dengan ngaji langsung Al Qur’an dan Hadits. Namun ternyata, untuk sekedar bisa membaca Al Qur’an dengan tajwid dan makhraj huruf yang benar saja kita harus membaca kitab karangan ulama’.

Dulu kita mengira, belajar Bahasa Arab tidaklah penting, karena Abu Jahal yang bisa bahasa Arab-pun tidak mau beriman. Namun ternyata, bagaimana kita bisa menerjemahkan Al Qur’an dan Al Hadits dengan benar, jika kita tidak bisa membedakan mana fi’il mana isim, mubtada’ mana khobar.

Dulu kita mengira, belajar aqidah tidak ada manfaatnya. Namun ternyata, benar tidaknya aqidah seseorang, adalah timbangan dia seorang jama’ah atau bukan.

Dulu kita mengira, belajar ilmu fiqh tidaklah penting. Kita anggap cukup mengikuti ijtihad yang dititahkan oleh Bapak Amir. Namun ternyata, dari belajar fiqh, kita jadi tahu mana wajib, mana sunnah, mana makruh dan mana haram.

Dulu kita mengira, jika sudah mempunyai tekad untuk menjauhi bid’ah, maka kita akan terbebas darinya. Namun ternyata, kita hanya terbebas dari bid’ah yg sudah diketahui sebagai bid’ah oleh kelompok kita saja, akan tetapi, kita larut pada bid’ah lain yang dibuat buat oleh tokoh tokoh kelompok kita.

Dulu kita mengira, orang orang yang keluar dari kelompok pengajiankita adalah orang orang yang murtad, sebutan kafir layak disematkan kepada mereka. Namun ternyata, mereka hanya pindah guru ngaji, bukan pindah agama.

Dulu kita mengira, jika sudah mengaji dengan menerjemah Al Qur’an dan Al Hadits, ditambah ber bai’at kepada seorang yang diangkat sebagai Amir dari kalangan kita, maka kita anggap kita sudah menetapi Al Jama’ah. Ternyata, pengertian jamaah dan Al Jamaah berbeda. Al Jama’ah tidak dilihat dari sisi jumlah, namun dilihat dari kesesuaian aqidah dan cara beragama, apakah sesuai dengan yang telah dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dan para shahabatnya, ataukah tidak.

Dulu kita mengira, jika sudah mempunyai Amir yang kita bai’at di dunia, kita akan selamat dunia akhirat, karena dia akan mempersaksikan amalan kita dan membela kita di persidangan akhirat. Namun ternyata, keselamatan di akhirat hanya bisa diperoleh dengan memurnikan peribadahan kepada Allah dan menjauhi segala bentuk kesyirikan.

Kita ternyata hanyalah orang yang bodoh dari luasnya samudra ilmu para ulama’, namun merasa pintar karena kelompok kita selalu membuai kita sebagai Gurune Jagad.

Semoga kebodohan kita cukup sampai disini. Mari kita lebih berhati hati dalam memilih guru belajar agama, karena salah memilih guru dalam beragama, bisa celaka dunia akhirat.

{وَبَرَزُوا لِلَّهِ جَمِيعًا فَقَالَ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنتُم مُّغْنُونَ عَنَّا مِنْ عَذَابِ اللَّهِ مِن شَيْءٍ ۚ قَالُوا لَوْ هَدَانَا اللَّهُ لَهَدَيْنَاكُمْ ۖ سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَجَزِعْنَا أَمْ صَبَرْنَا مَا لَنَا مِن مَّحِيصٍ} [ابراهيم : 21]

Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong: “Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan daripada kami azab Allah (walaupun) sedikit saja? Mereka menjawab: “Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri” [QS Ibrohim 21]

4 Komentar

  1. Alhamdulliih, segala puji bagi Allah yang telah memberi cahaya pada saya sekeluarga, setelah keluar dari kumpulan menyeleweng/menyimpang ini, LDII.
    Kami telah bersama2 mereka selama lebih 30 tahun.
    Sia2 saja mengikuti ilmu2 mereka yg bergelombang bida’ah2.
    Terima Kasih atas penulis post di atas ini.

    Yang bemar
    Abdul Kahar
    Singapore

  2. Doakan saya bisa kuat berjuang untuk keluar dari LDII bersama istri saya, saya pribadi sudah 100% tdk sepaham dengan akidah LDII yang penuh ke bithonahan, krn kebenaran agama islam tdk akan di sembunyikan seperti itu, tetapi istri masih tertanam dalam dirinya kuatnya doktrin LDII

  3. Alhamdulillah saya telah keluar dari doktrin mereka walau sempat di kejar kejar sampai ke kost dan rumah, akhirnya bisa lepas 100%

    Terimkasih Penulis

  4. Mungkin yg di sana masih bbrp tahun di ldii,kalo saya sudah dari buyut (sebelum merdeka),nurun ke kakek, nurun ke ibu ,sampai
    sampai kakek saya menyumbangkan tanahnya untuk membuat mesjid LDII tepat di belakang rumah saya,sungguh doktrin mereka kuat sekali ,Doakann saya agar bisa keluar dari LDII,karena sampai saat ini mubalig saya sering menasihati saya di depan ibu saya ,agar jgn sampai keluar dari LDII, tapi nasihat itu tidak ku perdulikan, saya masih tetap bersikeras untuk keluar dari LDII,itu posisi saya waktu jadi ketua muda mudi. terimakasih atas penulisan yg ngepost di atas, semoga mereka semua cepat sadar .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Jokam Sejati Tidak Akan Bisa Menipu Diri Sendiri

Untuk apa Allah menurunkan agama, syariah bagi manusia? Menurut Imam Syatibi syariah bertu…